DAYA SAING REMPAH INDONESIA DI PASAR ASEAN PERIODE PRA DAN PASCA KRISIS EKONOMI GLOBAL

  • Iwan Hermawan Sekretariat Jenderal DPR-RI
DOI: https://doi.org/10.30908/bilp.v9i2.6
Abstract Views: 671 | PDF Downloads: 2372

Downloads

Download data is not yet available.
  
Keywords: Rempah, Daya Saing, ASEAN, Ekspor, Spices, Competitiveness, Export

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat daya saing ekspor rempah Indonesia di pasar ASEAN dan tingkat intensitas persaingan ekspor rempah dari negara-negara ASEAN. Metode analisis yang digunakan adalah Revealed Comparative Advantage (RCA), Intra-Industry Trade (IIT), Index of Export Overlap (IEO), dan Index of Export Similarity (IES). Sedangkan data yang digunakan adalah data tahunan periode tahun 2005-2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya saing rempah Indonesia di pasar ASEAN mengalami perubahan antar periode pengamatan. Pada periode sebelum dan saat krisis ekonomi banyak komoditas rempah Indonesia berdaya saing rendah. Sedangkan pada saat pasca krisis ekonomi kondisi daya saing rempah tersebut mengalami peningkatan, khususnya vanili, kayu manis, jahe, kunyit, safron, timi, daun salam, daun kari, dan lada. Apabila dilihat dari sisi persaingan komoditas rempah negara-negara ASEAN di pasar Indonesia maka intensitasnya cenderung menurun. Lada dari Filipina, vanili dari Thailand, dan cengkeh dari Malaysia dapat menjadi kompetitor yang potensial di pasar rempah Indonesia karena daya saingnya meningkat di saat negara-negara lain menurun. Pemerintah Indonesia dapat melakukan upaya-upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan potensi daya saing rempah melalui (a) teknik budidaya yang baik, (b) pengembangan industri hilir, (c) pemanfaatan bursa komoditas, dan (e) perbaikan fasilitasi perdagangan.

 

The study aims at analyzing the level of export competitiveness of Indonesian spices and the intensity level of spices export competitiveness among ASEAN countries. This study used Revealed Comparative Advantage (RCA), Intra-Industry Trade (IIT), Index of Export Overlap (IEO), and Index of Export Similarity (IES) approaches. The data used were time series during 2005-2013. The results showed that in the period before and during economic crises, most of Indonesian spice commodities are considered in the low level of competitiveness. However, that level has improved after the Indonesian economic crises, particularly for some spice commodities such as: vanilla, cinnamon, ginger, saffron, turmeric, thyme, bay leaves, and curry. Seen from the ASEAN countries’ spice commodities in Indonesian market, the level of competitiveness tends to decline in the intensity. Philippines pepper, Thai vanilla, and Malaysian clove may become the potential competitors in Indonesian market showing that those countries have increased the level of competitiveness whereas other ASEAN countries have decreased. Indonesian government should maintain and stimulate the potential spice competitiveness through: (a) an application of good cultivation technique, (b) a development of downstream industry, (c) a utilization of commodity exchange, and (e) an improvement of trade facilitation.

Author Biography

Iwan Hermawan, Sekretariat Jenderal DPR-RI
P3DI Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik

References

Amelia, F. (2009). Analisis Daya Saing Jahe Indonesia di Pasar Internasional. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Amran, Z. A. (2013). Jambi, Penghasil Kayu Manis Dunia. Diunduh tanggal 17 Juli 2015 dari http://www.newskpkjambi.com/ekonomi/392-jambi-penghasil-katu-manis-dunia.

Amri, A. B. dan Kurniawan, I. (2012). ADB: Kesenjangan Ekonomi RI Dipicu Problem Transportasi. Diunduh tanggal 17 April 2015 dari http://bisnis.news.viva.co.id /news/read/367923-adb--kesenjangan-ekonomi-ri-dipicu-problem-transportasi.

Antono, A. (2010). Analysis of The Indonesian Competitiveness on Pepper Products in The World. Tesis. Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

Asmara, R. dan Artdiyasa, N. (2008). Analisis Tingkat Daya Saing Ekspor Komoditi Perkebunan Indonesia. Agrise, Vol. VIII, No. 2, hal. 104-111.

Arvis, Jean-F., Saslavsky, D., Ojala, L., Shepherd, B., Busch, C., and Raj, A. (2012 and 2014). Connecting to Compete 2014, Trade Logistics in the Global Economy, The Logistics Performance Index and Its Indicators. Washington, DC: The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank.

Chomchalow, N. (1996). Spice Production in Asia-An Overview. Office of the President, Assumption University Bangkok, Thailand, Unpublished paper presented at the IBC’s Asia Spice Markets ’96 Conference, Singapore, 27-28 May 1996.

Comtrade. (2015). Trade Map-International Trade Statistics. Geneva: Market Analysis and Research, International Trade Centre (ITC). Diunduh pada 11 Maret 2015 dari http://www.intracen.org/itc/market-info-tools/trade-statistics/.

Deloitte. (2014). Competitiveness: Catching the Next Wave The Philippines. Taguig: Deloitte Touche Tohmatsu Limited.

Direktorat Jenderal Perkebunan. (2013). Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Rempah dan Penyegar, Pedoman Teknis Koordinasi Kegiatan Pengembangan Tanaman Rempah dan Penyegar, 2014. Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan-Kementerian Pertanian.

Ermiati (2011). Analisa Kelayakan, Kendala Pengembangan Usahatani dan Solusi Diversifikasi Produk Akhir Temulawak di Kabupaten Bogor (Studi Kasus Kecamatan Cileungsi). Buletin Littro., Vol. 22, No. 1, hal. 97-114.

Fauzan, I. (2014). Indonesia Genjot Produk Rempah Unggulan. Diunduh tanggal 11 Maret 2015 dari http://ekbis.sindonews.com/read/930437/34/indonesia-genjot-produk-rempah-unggulan-1417180827/1.

FAO. (2014). New Quality Criteria to be Developed for Booming Spice and Herb Sector. Diunduh tanggal 11 September 2014 dari http://www.fao.org/news/ story/en/item/213612/icode/.

Fleming, D. A. and Abler, D. G. (2013). Does Agricultural Trade Affect Productivity? Evidence from Chilean Farms. Food Policy, 41, pp.11–17.

Hadi, P. U. dan Mardianto, S. (2004). Analisis Komparasi Daya Saing Produk Ekspor Pertanian Antar Negara ASEAN dalam Era Perdagangan Bebas AFTA. Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 22, No. 1, hal 46-73.

Ibrahim, P., M. K., dan Wibowo, W. A. (2010). Dampak ACFTA terhadap Perdagangan Internasional Indonesia. Working Paper WP/08/2010, Bank Indonesia.

IMF. (2011). Changing Patterns of Global Trade. Washington DC.: International Monetary Fund.

Kementerian Pertanian. (2014). Outlook Komoditi Cengkeh. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Sekretariat Jenderal-Kementerian Pertanian.

Lan, L and Chengyan, Y. (2009). Non-Tarrif Barrires to Trade Caused by SPS Measures and Customs Procedurs with Product Quality Changes. Journal of Agricultural and Resource Economis, Vol. 34, No. 1, pp. 196-212.

Latif, S. dan Sukirno. (2011). Dulu Kaya Rempah, Impor RI Meningkat Terus. Diunduh tanggal 17 April 2015 dari http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/265472-kaya-rempah--impor-ri-malah-naik-terus.

Leturque, H. and Wiggins, S. (2010). Thailand's Story: Thailand’s Progress in Agriculture: Transition and Sustained Productivity Growth. London: Ovreseas Development Institute.

Manado.tribunnews. (2013). Disperindag Sulut Kebut Hilirisasi Komoditas Unggulan. Diunduh tanggal 17 April 2015 dari http://manado.tribunnews.com/2013 /10/21/disperindag-sulut-kebut-hilirisasi-komoditas-unggulan.

Marlinda, B. (2008). Analisis Daya Saing Lada Indonesia di Pasar Internasional. Skripsi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Melo, O., Engler, A., Nahuehual, L., Cofre, G., and Barrena, J. (2014). Do Sanitary, Phytosanitary, and Quality-related Standards Affect International Trade? Evidence from Chilean Fruit Exports. World Development, Vol. 54, pp. 350-359.

Mohan, S., Rajan, S. S., and G, Unnikrishnan. (2013). Marketing of Indian Spices as A Challenge in India. International Journal of Business and Management Invention, Vol. 2, Issue 2, pp. 26-31.

Pasaribu, S. M. dan Dermoredjo, S. K. (2015). Kesiapan Daerah di Sektor Industri Berbasis Agro Menghadapi Pasar Tunggal ASEAN 2015. Presentasi disampaikan pada FGD “Kesiapan Daerah di Sektor Industri Berbasis Agro Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015” tanggal Jakarta, 25 Februari 2015.

Perez, A. P. and Wilson, J. S. (2012). Export Performance and Trade Facilitation Reform: Hard and Soft Infrastructure. World Development, Vol. 40, No. 7, pp. 1295-1307.

Pikiranrakyat. (2014). Indonesia Berupaya Kembalikan Kejayaan Rempah-rempah. Diunduh tanggal 11 Maret 2015 dari http://www.pikiran-rakyat.com /node /306401.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan. (2010). Mengenal Cara Panen dan Pengolahan Kayumanis di Kabupaten Kerinci. Majalah Semi Populer Tanaman Rempah dan Industri, Volume 1, Nomor 16, April 2010.

Pribadi, E. R. dan Sujianto. (2013). Tanggap Petani dan Kelayakan Pengembangan Benih Nilam Hasil Kultur Jaringan. Buletin Littro, Vol. 24, No. 1, hal. 49-56.

Rosli, A., Rahim, K. A., Radam, A., and Abdullah, A. M. (2013). Determinants of Cost Efficiency of Smallholders Pepper in Sarawak, Malaysia. Asian Journal of Social Sciences & Humanities, Vol. 2, No. 3, pp. 78-86.

Suaramerdeka. (2013). Indonesia Berpotensi Jadi Eksportir Rempah Terbesar di Dunia. Diunduh tanggal 14 Maret 2015 dari http://www.suaramerdeka.com /v1/index.php/read/news/2013/05/23/158078/Indonesia-Berpotensi-Jadi-Eksportir-Rempah-Terbesar-di-Dunia.

Suharyanto, Agustian, A., dan Silitonga, P. Y. (2013). Analisis Daya Saing Komoditas Perkebunan di Kabupaten Kaimana Provinsi Papua Barat. Sepa, Vol. 10, No. 1, hal. 148-155.

Sutriyanto, E. (2014). Dalam 5 Tahun Jumlah Restoran Kelas Menengah Tumbuh 250 Persen. Diunduh tanggal 14 Maret 2015 dari http://www.tribunnews.com /bisnis/2014/04/02/dalam-5-tahun-jumlah-restoran-kelas-menengah-tumbuh-250-persen?page=2.

SADC Trade. tidak ada tahun. Trade Information Brief, Spices, Hatfield and Pretoria: Trade and Industrial Policy Strategies and Australian Agency for International Development.

UNIDO dan FAO. (2005). Herbs, Spices and Essential Oils Post-Harvest Operations in Developing Countries. Vienna: UNIDO and FAO.

United Nations and World Trade Organization. (2012). A Practical Guide to Trade Policy Analysis. Geneva: World Trade Organization.

Wahyudi, A. (2012). Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Rokok Kretek. Infotek Perkebunan, Volume 4, Nomor 11, Desember 2012. Diunduh tanggal 17 Juli 2015 dari http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/?p=4172.

Yuan, L. and Beghin, J. C. (2012). A Meta-Analysis of Estimates of the Impact of Technical Barriers to Trade. Journal of Policy Modeling, 34, pp. 497–511.

Published
2015-12-31
How to Cite
Hermawan, I. (2015). DAYA SAING REMPAH INDONESIA DI PASAR ASEAN PERIODE PRA DAN PASCA KRISIS EKONOMI GLOBAL. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, 9(2), 153-178. https://doi.org/10.30908/bilp.v9i2.6
Section
Articles