IMPLEMENTASI SISTEM RESI GUDANG (SRG) PADA KOMODITI JAGUNG: STUDI KASUS DI KABUPATEN TUBAN, PROVINSI JAWA TIMUR

  • Nurlia Listiani LIPI
  • Bagas Haryotejo Kementerian Perdagangan
DOI: https://doi.org/10.30908/bilp.v7i2.113
Abstract Views: 1935 | PDF Downloads: 1445

Downloads

Download data is not yet available.
  
Keywords: Sistem Resi Gudang, Jagung, Decision Matrix Analysis, Value Tree Objective, Warehouse Receipt System, Corn

Abstract

Studi ini bertujuan mengkaji berbagai faktor yang mempengaruhi petani dalam memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan menganalisis manfaat penerapan SRG di Kabupaten Tuban. Metode yang digunakan adalah model Decision Matrix Analysis dan Metode Value Tree Objective. Hasil analisis DMA menunjukkan bahwa faktor utama pemanfaatan SRG adalah ketersediaan sarana dan prasarana gudang. Manfaat terbesar yang diperoleh petani adalah keuntungan dari adanya selisih harga jual saat panen dengan paska panen. Namun demikian, belum semua petani bersedia menggunakan SRG. Oleh karena itu, penerapan SRG perlu (1) sosialisasi, edukasi, dan succes story agar dapat diikuti oleh para petani; (2) lembaga seperti koperasi untuk menampung hasil panen; (3) dryer khusus untuk komoditas jagung.

 

This study aims to examine the various factors influencing the farmers in using the warehouse receipt system and to analyze the benefits and costs in applying SRG for corn in Tuban, East Java province. Decision Matrix Analysis model is used to analyze the main factors that control farmers to use the warehouse receipt system, while Value Tree Objective is used to analyze the benefit and cost from using the warehouse receipt system. Based on the DMA model, the main factor influencing the farmers in using the warehouse system is the availability of facilities and infrastructures that support the warehouse. The biggest benefit from using warehouse receipt system is a gain coming from the price difference between sale during harvest time and post harvest. However, there are still many farmers who are reluctant to use the system. In order to encourage farmers, the implementation of SRG needs (1) socialization, education, and presenting success story; (2) the establishment of an institution like cooperative to load the harvest; (3) provision of special drier for corn.

Author Biographies

Nurlia Listiani, LIPI
Pusat Penelitian Ekonomi (P2E), LIPI
Bagas Haryotejo, Kementerian Perdagangan

Pusat Pengkajian Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan

References

Ashari. (2011). Potensi dan Kendala Sistem Resi Gudang (SRG) Untuk Mendukung Pembiayaan Usaha Pertanian di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol. 29 (2). Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Aviliani dan U. Hidayat. (2005). Menuju Skim Pembiayaan Resi Gudang yang Atraktif. Diunduh tanggal 17 April 2013 dari http://www.indef.or.id/xplod/upload/ arts/Resipersen20Gudang.HTM

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (BAPPEBTI). (2013). Laporan Rekapitulasi Resi Gudang. Jakarta: Kementerian Perdagangan.

BPS. (2012). Kabupaten Tuban Dalam Angka. BPS Kabupaten Tuban.

BPS. (2013). Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Timur 2013. BPS Provinsi Jawa Timur. No. 20/03/35/Th.XI, 1 Maret 2013.

Departement for Communities and Local Government. (2009). Multi-Criteria Analysis: a Manual. Communities and Local Government. London. Diunduh tanggal 15 September 2013 dari https:// www.gov.uk/government/uploads/ system/uploads/attachment_data/ file/7612/1132618.pdf

Hasan, F. (2008). Potensi Penerapan Sistem Resi Gudang di Indonesia. Institute for Development of Economic and Financing (INDEF). Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Sistem Resi Gudang, Pengembangan Alternatif Pembiayaan melalui Sistem Resi Gudang. Hotel Borobudur: tanggal 4 November 2008. Jakarta.

Hollinger, F, Rutten, L, and Krassimir, K. (2009). The Use of Warehouse Receipt Finance in Agriculture in Transition Countries. Working paper disampaikan pada World Grain Forum 2009. St. Petersburg/Russian Federation: tanggal 6-7 Juni 2009.

Kompas. (2013, 13 Juli). Makna Resi Gudang.

Lacroix, R dan Panos, V. (1996). Using Warehouse Receipts in Developing Countries and Transition Economies. Journal Finance and Development. Vol. 33, No. 3, September.

Muhi, H. A. (2011). Fenomena Pembangunan Desa. Institute Pemerintahan Dalam Negeri. Jatinangor, Jawa Barat.

Peraturan Bank Indonesia (BI) No. 9/6/PBI Tahun 2007. Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum Konvensional. Jakarta: Bank Indonesia.

Peraturan Menteri Perdagangan No. 26/ M-DAG/PER/6/2007. Barang yang dapat disimpan di gudang dalam penyelenggaraan Sistem Resi Gudang. Jakarta: Kementerian Perdagangan.

Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2007. Pelaksanaan Undang-undang Nomor 9 tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang. Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Riana, D. (2010). Penggunaan Sistem Resi Gudang Sebagai Jaminan Perbankan di Indonesia. Tesis Magister Hukum, Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia

Santosa, Budi. (2007). Data Mining: Teknik Pemanfaatan Data untuk keperluan Bisnis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tague, N. (2005). The Quality Toolbox. Second Edition, ASQ Quality Press.

Published
2013-12-31
How to Cite
Listiani, N., & Haryotejo, B. (2013). IMPLEMENTASI SISTEM RESI GUDANG (SRG) PADA KOMODITI JAGUNG: STUDI KASUS DI KABUPATEN TUBAN, PROVINSI JAWA TIMUR. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, 7(2), 193-212. https://doi.org/10.30908/bilp.v7i2.113
Section
Articles